Sesal by Friescha Marsha

Posted: December 21, 2011 in Other
Tags: , , , , , , , , , , , ,

Wajah Doo Joon memucat. Tangannya masih memegang erat sebuah saputangan putih. Tidak, sudah tidak putih lagi. Sapu tangan itu sudah kusam. Berlumur darah yang menepel dari beberapa hari yang lalu. Matanyanya kosong menatap sebuah boneka beruang cokelat kecil di hadapannya. Tak lama air mata pun mengalir. Pelan-pelang kemudian deras. Doo Joon menangis. Menangis histeris. Dia menggenggam tangannya. Memukuli dirinya sendiri. Menylahkan dirinya. Dan dengan penuh emosi, dia tinju kaca di kamarnya.

3 minggu yang lalu, telepon Doo Joon berdering. Lebih dari sepuluh kali. Tapi Doo Joon tidak mengangkatnya. Doo Joon terlalu sibuk dengan tugas akhir kuliahnya. Matanya tak lepas dari laptop. Laporan akhir ini sangat penting baginya. Ini yang menentukan apakah dia akan lulus jadi seorang mahasiswa akuntan dan segera menempuh jadi seorang akuntan yang dia impikan selama ini. Segelas kopi pahit dan sebungkus kacang menemaninya. Sekali lagi handphonenya berdering. Tapi bukan nada dering telepon melainkan SMS. Doo Joon hanya menoleh sesaat kemudian matanya kembali ke laptop.

Ini sudah di halaman 134, mata Doo Joon sudah benar-benar berat. Tapi dia harus melanjutkannya. Dengan sekuat tenaga Doo Joon melanjutkan megerjakan tugasnya. Tiba-tiba pintuk kamarnya ada yang mengetuk. Doo Joon tinggal di sebuah rumah kecil yang lebih pantas disebut kamar. Dibukanya dengan kesal pintu kamarnya. Tak disangka orang yang mengetuk pintu tadi adalah, Boram, kekasih Doo Joon. Wajah Boram pucat. Matanya sangat sembab. Hidungnya sudah sangat merah seperti badut. Seluruh tubuhnya terlihat basah. Memang diluar sedang hujan. Tapi apa perlu Boram hujan-hujanan seperti ini? Terlihat tangannya gemetar. Di tangan kanannya dia genggam handphone. Di tangan kirinya dia genggam secarik kertas. Doo Joon kaget sekali. Sudah dua hari ini mereka jarang berkomunikasi karena Doo Joon cukup sibuk dengan tugas akhirnya. Doo Joon juga kaget melihat Boram dengan wajah dan penampilan sekarang ini. Seperti bukan Boram yang ada dihadapannya.

Mata Boram terlihat penuh emosi. Ada amarah bercampur sedih disana. “Kamu kenapa sayang? Kamu hujan-hujanan ya? Ayo masuk dulu,” kata Doo Joon sambil merangkul dan membawa Boram ke dalam kamar. Pelan Doo Joon menutup pintu masih sambil merangkul Boram yang semakin lemas tubuhnya.  Perlahan Doo Joon menduduki Boram di kursi tempat dia mengerjakan tugasnya. Wajah Boram tertunduk memelas. Doo Joon duduk merunduk sambil mencari wajah Boram yang sangat tertunduk seperti terlipat masuk kedalam lehernya dan tertutup rambut panjangnya yang basah dan kucel. “Ada apa, Sayang?” Tanya Doo Joon lembut. Tangannya menggenggam erat tangan Boram yang masih gemetar.

“Kenapa kamu enggak angkat teleponku?” tanya Boram dengan suara getir. Wajahnya masih tertunduk. “Ah maaf sayang. Tadi aku lagi serius banget ngerjain tugasku. Kamu tahu sendiri kan ini tugas ribetnya minta ampun. Maaf ya sayangku,” jelas Doo Joon. Boram masih saja menunduk. Tapi sekarang terdengar suara isak dari dirinya. Tangannya pun semakin gemetar. Doo Joon bingung. Semarah itukah sang kekasih padanya? Doo Joon mencoba mengangkat wajah Boram. Dia coba menatap mata Boram. Terlihat mata Boram yang mulai mengeluarkan air mata. Boram semakin bingung. Tatapan matanya sungguh kosong.

“Kamu marah sama aku? Sayang, maaf banget ya,” kata Doo Joon penuh penyesalan. Boram hanya diam. Tatapannya masih kosong. Matanya tidak berhenti mengeluarkan air mata. Bibirnya terlihat gemetar. Doo Joon sungguh bingung. Dia merasa tak tenang. Dia yakin pasti bukan karena dia tidak mengangkat telepon Boram. Pasti ada hal lain karena Boram bukan tipe wanita yang akan marah seperti itu jika Doo Joon sulit dihubungi.

Doo Joon pun mencoba untuk memeluk sang kekasih yang terlihat kacau itu. Namun Boram menolak dengan keras. Dia dorong Doo Joon keras hingga Doo Joon hampir jatuh. Boram langsung berdiri. Matanya penuh emosi. Doo Joon yang masih mencoba mencari keseimbangan untuk tetap berdiri tegak sungguh kaget campur bingung dan sedikit ketakutan. Tak pernah dia lihat Boram penuh emosi seperti terlihat dari wajahnya saat  ini. “Sentuhanmu…sentuhanmu…,” kata Boram gekametar. “Aku benci sentuhanmu!!” teriak Boram penuh emosi. Air mata pun mengalir deras di pipinya. Doo Joon bingung. Dia coba perlahan hampiri Boram, tapi Boram mendorong keras Doo Joon lagi. “Kamu kenapa sih? Aku ga ngerti!” kata Doo Joon sedikit keras.

Boram terdiam. Tatapan tajam. Melanglang menusuk hati Doo Joon. Doo Joon terdiam. Doo Joon menunggu jawaban Boram. Sungguh Doo Joon berharap Boram memukulinya langsung secara keras daripada harus ditatap tajam penuh emosi seperti ini. Ini lebih menyakitkan bagi Doo Joon. Boram palingkan wajahnya ke arah lain. Terdengar cukup jelas sekarang. Boram menangis. Isakannya saling kejar-kejaran. Keadaan sangat hening. Yang terdengar hanya suara tangis Boram yang menderu.

Mata Boram perlahan menatap laptop Doo Joon secara tidak langsung. Dia lihat ketikan tugas akhir Doo Joon. Mata Boram pun berkeliling melihat meja Doo Joon yang berantakan karena banyak kertas tugasnya yang berserakan. Boram melamun sebentar. Air matanya tertahan. Perlahan dia lihat wajah kekasihnya yang masih menatapnya kebingungan. Boram menghela nafas panjang. Bibirnya gemetar. Doo Joon perlahan menghampiri Boram. Telihat Boram memang lebih tenang. “Kamu udah mendingan? Ada apa?” Doo Joon bertanya pelan. Dia belai rambut Boram yang sudah hampir mengering.

Tiba-tiba Boram memeluk Doo Joon. Doo Joon balas dengan pelukan hangat. Tubuh Boram terasa gemetar. Doo Joon mengeratkan pelukannya mencoba menghangatkan tubuh Boram. “Apakah menjadi akuntan adalah benar-benar kebahagian terbesarmu?” tanya Boram. “Iya. Kamu tau itu kan?” jawab Doo Joon dengan nada penuh semangat. Cita-cita Doo Joon memang ingin menjadi seorang akuntan hebat seperti ayahnya. Ini juga yang mempertemukan mereka di kampus. Karena mereka sama-sama mahasiswa akuntansi.

“Kebahagiaanmu, kebahagianku juga. Aku tak mau merusaknya,” kata Boram tegas tapi sedikit gemetar. Doo Joon mengangguk di pundak Boram. Dia tersenyum. Dia bahagia memiliki kekasih seperti Boram. “Berjanjilah padaku, setelah lulus kamu akan menjadi akuntan hebat seperti mimpimu selama ini,” kata Boram berbisik di telinga Doo Joon. Doo Joon melepas pelan peukan mereka. Digenggamnya erat dan hangat lengan Boram. Ditatapnya mata Boram. “Aku berjanji untuk embuatmu bahagia dengan mewujudkan kebahagianku.” Boram tersenyum dengan linangan air mata. Perlahan Doo Joon mendekatkan wajahnya ke wajah Boram. Perlahan bibirnya menyentuh bibir Boram dengan lembut. Air mata Boram tak terbendung lagi dan mengalir diantara bibir mereka berdua yang sedang mencoba saling menghangatkan.

Keesokan harinya. Doo Joon tertidur pulas sekali di kasurnya. Dia tertidur jam 4 subuh setelah mengantar Boram pulang ke ruamhnya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya. Doo Joon sungguh males membukanya. Tapi ketukan pintu semakin kencang dan terkesan seperti sedang memukuli pintu itu. Mau tak mau doo Joon membuka pintu kamarnya. Dengan wajah yang masih kucel ditambah kesal, Doo Joon buka pintu dengan gumaman amarah. “Lama sekali kamu buka pintu!” teriak seseorang dibalik pintu itu. Doo Joon pun terhentak. Matanya yang tadi belum terbuka penuh, sekarang tebuka dan malah melotot. Ternyata orang yang berteriak itu Eunjung. Eunjung adalah kakaknya Boram. Orang paling dekat dengan Boram. Orang yang mendekatkan Doo Joon dengan Boram.

“Ada apa? Kenapa pagi-pagi gini kamu mara-marah?” tanya Doo Joon kesal dan di akhiri dengan menguap yang menandakan dia masih ngantuk. Penuh emosi Eunjung melempar beberapa barang ke muka Doo Joon. Doo Joon kaget bukan kepayang. Ditatapnya Eunjung dengan sangat kesal. “Kau bajingan! Kembalikan adikku!” teriak Eunjung disertai tangisnya. Doo Joon bingung. Kembalikan? Padahal semalam Doo Joon mengantar pulang Boram sampai depan pintu rumah Boram. Bahkan di lihat Boram masuk ke rumah. Lalu kenapa sekarang dia harus kembalikan Boram?

“Adikku….” kata Eunjung terbata-bata. Belum sempat Doo Joon ingin bilang kalau dia sudah mengantar Boram sampai rumah, Eunjung melanjutkan kata-katanya, “Adikku meninggal.” Doo Joon kaget bukan kepayang. Rasanyanya seperti tersambar petir di siang bolong. Tertimpa pohon. Dan tersapu ombak besar. Antara percaya dan tak percaya, Doo Joon mencoba untuk tetap tenang. Dia coba meyakinkan lagi apa yang dikatakan Eunjung, “Barusan kau bilang apa? Apa maksudmu?” Eunjung mengumpulkan segenap tenaga. Dia bicara dengan nada yang lebih tinggi dan penuh emosi, “Adikku meninggal. Adikku dan calon keponakanku meninggal!” calon keponakan? Doo Joon semakin kaget bingung. Ini sebenarnya ada apa. Kenapa ini. Dari semalam dia selalu dibuat kaget dan bingung. ada apa sebenarnya? Padahal dia sedang tidak ulang tahun

“Bisa kamu jelasin sebenernya ada apa? Sungguh, aku ga ngerti,” tanya Doo Joon. Walaupun Doo Joon belum jelas denga apa yang terjadi, tapi rasanya hatinya sekarang sedang diperas-peras, sungguh sakit rasanya. Eunjung terlihat sangat lemas. Menahan semua emosi sedih dan juga amarah, membuat dia tak kuat. Dengan sekuat tenaga, Eunjung mencoba untuk menjelaskan semuanya. “Kamu adalah calon ayah. Ayah dari anak yang ada di kandungan Boram,” jelas Eunjung dengan isakan. Anak? Boram sedang mengandung?? Sejak kapan?? Doo Joon merasa semua seperti mimpi di pagi buta. Ditatapnya Eunjung yang masih menangis. Dilihatnya barang-barang yang Eunjung lempar. Ada boneka beruang cokelat kecil pemberiannya kepada Boram. Ada sapu tangan berlumur darah. Ada test pack. Ada selembar kertas. Dia pun mengambil selembar kertas itu. Dibacnya pelan-pelan dan seksama. Sungguh-sungguh seksama karena sekarang dia sangat tidak sangat konsentrasi. Dia lihat tanggal surat itu. Itu tanggal kemarin. Dibacanya pelan dan masih dengan sangat tidak konsentrasi. Pikirannya sudah mealnglang buana. Mungkin dengan jiwanya. Yang sangat dia jelas baca adalah kata ‘positif’. Masih dengan tatapan di kertas, mata Doo Joon sudah mulai berlinangan air mata.

“Kemarin aku mengantar Boram ke rumah sakit. Dia suda tidak datang bulan 4 bulan ini. Pertamanya dia tidak mau cerita padaku. Tapi aku memergoki ada test pack di tasnya. Dan akhir dia bercerita padaku. Kalian melakukan hubungan itu di flat waktu kalian sedang berlibur berdua. Ya kan?” cerita Eunjung sedikit lebih jelas kata-katanya sekarang karena tanpa tangis dan emosi. Memori Doo Joon melayang ke hari dimana dia dan Boram berlibur bersama dan menginap di suatu flat yang sama. Mereka melakukan hubungan yang pantasnya dilakukan oleh suami istri.

“Waktu Boramg coba melihat melalui test pack, dia benar-benar sudah positif. Tapi untuk meyakinkan lagi, aku mengajaknya ke rumah sakit. Dan ternyata dia benar-benar pisitif. Dia sungguh merasa terpuruk. Dan dia coba hubungi kamu. Tapi kamu sulit sekali dihubungi. Dan karena tak tahan lagi, di tengah hujan lebat semalam, dia datang kesini untuk menemuimu,” kata Eunjung dan kali ini tangis menderu-deru menyertainya lagi. Doo Joon hanya diam. Mendengar crita Eunjung seperti dia sudah di ujut tebing dan siap-siap jatuh ke jurang. Tapi dia belum jatuh. Dia tahu cerita yagn lebih pedih lagi masih ada. Dia coba topang semua emosi ditubuhnya.

Eunjung kembali bercerita, “Tapi sepulangnya dari rumahmu. Boram hanya diam. Diam seribu bahasa. Aku menunggunya di ruang tamu. Tapi dia melaluiku seakan aku tak ada. Aku panggil dia. Dai hanya menoleh dan tersenyum kemudian berkata ‘kebahagian terbesar Doo Joon itu menjadi akuntan, bukan aku dan masa depan anak kami. Kamu tahu itu? Tapi aku bahagia kalu dia bahagia. Aku ingin dia wujudkan kebahagiaanya itu. Aku takkan biarkan aku dan anak kami menggangu itu’ dan Boram masuk ke kamrnya tanpa mengatakan apa-apa lagi. Tanpa mendengarkan jawabanku atas perkataanya tadi.” Tak kuasa lagi Doo Joon menahan air matanya. Turunlah air matanya. Dipandangnya Eunjung. Rasanya ingin sekali menjatuhkan tubuhnya kelantai dengan keras.

“Lalu, apa selanjutnya?” tanya Doo Joon dengan lemas. Eunjung menghela nafas panjang.  “Aku coba untuk tidak menganggunya. Tapi tadi pagi aku sangat khawatir. Aku ketuk pintunya. Tidak dia buka. Ku ketuk lagi, dia pun tidak buka,” cerita Eunjung terhenti. Dia menangis histeris. Dia tidak bisa menceritakan hal yang baru saja dia alami tadi pagi. Doo Joon merangkul perlahan Eunjung. “Aku coba membuka pintunya. Tak terkunci. Dan dibalik pintu kulihat Boram terbaring tak berdaya. Darah dimana-dimana, dan….” Eunjung tak sanggup lagi bercerita. Dia menangis tanpa jeda dipelukkan Doo Joon. Doo Joon pun menangis tak kalah histeris. Kali ini rasanya dia benar-benar terjatuh ke jurang. Setengah nyawanya, hidupnya telah hilang. Tubuh Eunjung gemetar. Mereka pun tenggelam di air mata mereka yang terus mengalir.

Kejadian 3 minggu lalu masih berbekas di hati dan pikiran Doo Joon. Matanya yang kosong masih menatap lemas boneka beruang cokelat kecil dihadapannya. Kemudian tatapannya langsung ke arah meja belajarnya. Dia lihat surat dokter milik Boram beseerta test pack diatasnya. Bersampingan dengan surat kelulusan miliknya. Doo Joon tertunduk lemas. Air mata pun kembali mengalir. Penyesalan. Dia merasakan ini. Dan ini sangat menyiksanya. Banayak kata seandainya dipikirannya. Kata-kata seandainya untuk menghindari pergi untuk selamanya Boram. Seandainya dia tidak pernah melakukan hubungan intim itu. Seandainya dia menanyan apa yang sebenarnya terjadi tanpa membahas kebahagiaanya. Seandainya dia lebih peduli dengan keadaan Boram. Seandainya dia angkat telepon dari Boram malim itu. Seandainya…..seandainya… Namun itu semua sekarang percuma. Kebahagiaannya yang sesungguhnya justru telah pergi untuk selamanya bersama kebahagiaan baru yang samasekali belum dia rasakan, yaitu anaknya.

Comments
  1. Fathiya says:

    Wah… Sad ending😥
    btw, q ga bisa byangin dujun oppa jd akuntan hahaha #ngelantur #slap xD

  2. bgcoolz says:

    ga kebayang doojoon tidur ama boram ahaha

  3. Anpan says:

    Like this…
    Paling suka sad ending.~😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s