My Love Is So Beast! [Chapter 10]

Posted: December 31, 2011 in My Love Is So Beast!
Tags: , , , , , , , , , , , ,

 

 

Jiyeon POV
Semalam Jiyeon tidak bisa tidur sama sekali. Ia memikirkan perkataan Kikwang semalaman. Bagaimana mungkin tidak bisa dipikirkan , selama ini Jiyeon berusaha  mati – matian untuk membenci Kikwang , melupakannya. Tapi saat Kikwang berkata seperti itu , semuanya seperti hilang. Rasa benci dan raa ingin melupakan digantikan dengan perasaan senagn , dan rasa rindu yang meluap – luap.
“Halo Kojiro ada apa?”Tanya Jiyeon sambil mengangkat teleponnya
“Kau sudha bangun , aku sudah ada di bawah , aku ingin mengajak kamu jalan – jalan kau mau kan?”Pinta Kojiro.
“Eum… tapi aku belum beres – beres sama sekali. Kau tunggu sebentar aku beres – beres nanti aku kebawah.”
“Baiklah.”
Baru saja Jiyeon mau masuk kamar mandi , bel pintu kamarnya sudah berbunyi. Jiyeon melihat siapa yang membelnya. Kikwang? Mau apa lagi dia? Jiyeon membuka pintu kamarnya sedikit hanya agar bisa kepalanya keluar saja
“Kau mau apa?”Tanya Jiyeon
“Aku mau mengajakmu jalan – jalan.” Jawab Kikwang santai
“Tapi aku sudah janjian dnegan temanku , dia sudah menungguku dibawah. Kami akan jalan – jalan.”
“Kalau begitu aku ikut bersama kalian.”
Jiyeon memandang Kikwang heran. Tapi Kikwang tampak yakin dengna perkataannya. Akhirnya Jiyeonpun mengiyakan , ia menyuruh Kikwang untuk menunggunya beres – beres dahulu , dikamarnya.
Tak lama Jiyeon keluar dari kamarnya. Kikwang sudah menunggunya. Jiyeon tampak kaget dengan penampilan Kikwang yang sama sekali tidak mencoba menutupi penampilannya sama sekali.
“Kau tidak memakai masker , kacamata , ataupun topi?”Tanya Jiyeon heran
“Sudahlah , tidak usah. Aku sudah lelah bersembunyi juga.”Jawab Kikwang santai.
“Aku rasa itu bukan ide baik , walaupun kau lelah .Tapi ini bukan ide yang baik sama sekali. Pakailah perlengkapanmu itu.  Aku tidak mau terjadi sesuatu hal yang tidak meneyangkan.”
Akhirnya karena Jiyeon memaksa Kikwang , Kikwang mau mengenakan masker dan topinya. Merekapun berjalan bersama kebawah. Kojiro sudah menanti mereka. Jiyeon mengenalkan Kikwang dan Kojiro satu sama lain.
“Sepertinya kau pernah melihat orang ini.” Kometnar Kojiro sambil memperhatikan Kikwang mendetail.
“Mungkin kau salah orang.” Jawab Jiyeon bohong
“Mungkin juga.”
Mereka berjaln – jalan bertiga , mengeliling shibuya , beberapa kuil – kuil di Tokyo dan juga tak lupa mampir ke menara Tokyo. Dan yang paling Jiyeon sukai adalah menara Tokyo , karena pemandangnaya snagat bagus.
Ia juga suka dengan gaya berpakaian orang Jepang yang berani menunjukan jati mereka sendiri , tanpa takut orang dengan komentar orang lain. Dan selama perjalanan hari ini , tak ada satu orangpun yang mengenal Kikwang. Mungkin karena beberapa faktor , faktor utamanya adalah b2st belum seterkenal di korea , saat di jepang. Karena mereka baru memulai debut mereka di Jepang baru  – baru ini. Dan
“Hari ini benar – benar menyenagkan , terima kasih Kojiro.”Kata Jiyeon setibanya di hotel
“Iya , sama – sama. Besok apa kau punya acara lain? Kalau tidak aku bisa mengantarmu berjalan – jalan.” Tawar Kojiro
“Besok aku dan dia akan pergi bersama.” Jawab Kikwang cepat
Jiyeon memelototi Kikwang , sejak kapan mereka berjanji untuk berjalan bersama besok hari?
“Ah baiklah kalau begitu , aku tidak akan kemari besok. Tapi kalau ada perubahan rencan kau bisa meneleponku.” Kata Kojiro
“Terima kasih Kojiro.” Kata Jiyeon sambil membungkuk tanda terima kasih.
“Apa maksudnya kau berkata kita akan berjalan – jalan berdua besok?”Tanya Jiyeon amrah sepeninggalan Kojiro
“Memang benar , aku besok akan mengajakmu makan malam. Kau tidak boleh menolaknya.” Kata Kikwnag tegas lantas setelah berkata seperti itu dia meninggalkan Jiyeon di loby hotel.
Kikwang POV
“Kau sudah menaruhnya di kamar itu kan?”Tanya Kikwang pada salah seorang petugas hotel
“Sudah.” Jawab petugas hotel tersebut.
Kikwang tersenyum senang , sambil memberikan tips pada petugas hotel tersebut. Ini adalah kesempatan Kikwang untuk mendapatkan hati Jiyeon kembali. Tidak peduli berapa sulit , dan berapa lama ia hanya ingin Jiyeon kembali kesampingnya seperti dulu.
Kikwang menyiapkan semuanya dengan baik malam ini. Ia juga menyediakan kejutan kecil berupa cincin. Ia tidak yakin Jiyeon akan menerima cinin itu , tapi ia berharap kalau Jiyeon mau menerimanya.
Kikwang sedikit gugup menunggu Jiyeon di depan kamarnya. Ia memilihkan baju unutk Jiyeon secara pribadi. Walaupun ia meminta masukan dari Hyunseung dan juga Junhyung , tapi tetap saja itu membuatnya gugup.
“Bagaimana penampilanku?”Tanya Jiyeon yang baru keluar dari kamarnya menggunakan gaun yang dipilihkan Kikwang untuknya.
Kikwang sempat tidak bisa berkata – kata . Jiyeon sangat cantik menggunakan gaun yang di pilihkannya itu. Lebih dari bayangkannya sendiri. Gaun Jiyeon berwarna putih dan bagian belakangnya sedikti menyapu lantai. Tidak terlalu sexy tapi sangat pas dengan image Jiyeon. Cantik , hanya satu kata itu yang bisa Kikwang deskripsikan tentang penampilan Jiyeon sekarang
“Kikwang , apa aku jelek?”Tanya Jiyeon takut – takut
“Tidak kamu cantik sekali. Kamu lebih cantik dari pada bayangkanku.” Jawab Kikwang jujur.
“Aku tidak terbiasa menggenakan baju seperti ini , jadi aku merasa agak aneh.”
“Tidak , kamu tidak aneh. Kamu cantik sekali. Sekarang apa kita bisa pergi?”
“Tentu saja, tapi kita sebenarnya mau kemana? Kenapa aku harus berdandan seperti ini?”
“Kamu akan tahu sendiri.”
Kikwang sudah membuking restauran yang berada di tokyo tower. Tempatnya romantis , dna Jiyeon pasti menyukai tempatnya. Karena dari temapt itu ia bisa melihat pemandangna kota Tokyo pada malam hari.
“Kita akan makan disinih?”Tanya Jiyeon tidak percaya ketika mereka sudah masuk ke temapat makan yang telah diepsan Kikwang.
“Iya. Aku sudah memesan tempatnya untuk kita. Ayo.” Ajak Kikwang sambil mengandeng tangan Jiyeon
“Kikwang , disinih kan mahal sekali. Kau yakin kita akan makan disinih?”
“Tentu saja , aku sudah memesan tempat ini. Sudah ayo  masuk.”
Kikwang memang mengeluarkan uang tidak sedikit untuk membuking temapt ini. Awalnya ia sedikit kaget dengan biaya yang harus dikeluarkannya untuk membuking tempat itu. Tapi menurut beberapa temannya dari kalangan selebritis tempat ini memang yang paling bagus di tokyo.
Kikwang juga sudah tidak lagi memikirkan nominal angka yang ia akan keluarkan demi Jiyeon. Yang penting itu bisa membahagiakan Jiyeon.
Selama acara makan malam , Jiyeon dan Kikwang berbicang – bincang. Jiyeon tidak berhenti menaggumi restauran itu , dan view tokyo pada malam hari yang sangat indah. Bahkan Jiyeon berkata ia tidak sia – sia mengabiskan waktu seharian di kamar hanya untuk menunggu makan malam seperti ini. Kikwang senang mendnger komentar Jiyeon
Sampai ke bagian makanan penutup. Kikwang tampak gugup sekarang. Ini saaatnya, pikir Kikwang
“Jiyeon…”Panggil Kikwang
“Huh?”Jawab Jiyeon sambil melihat Kikwang
“Maukan kau menjadi istriku?”Tanya Kikwang sambil berlutut di hadapan Jiyeon.
Jiyeon POV
“Maukah kamu menjadi istriku?”Tanya Kikwang smabil berlutut di hadapannya
Jiyeon kaget , ia yakin matanya sepert iingin keluar sekarang. Perutnya juga mendadak mulas , makanan yang ia tadi makan , berasa ingin keluar dari perutnya. Ini sungguh tidak bisa dipercaya
“Aku tidak sedang dikerjainkan?”Tanya Jiyeon bodoh
“Tidak , aku serius. Maukah kau menjadi istriku?”Tanya Kikwang sekali lagi
Jiyeon kehilangan kata – katanya. Tapi dalam beberapa detik kemudian memorinya kembali kepada masa lalu. Pada percintaanya yang sangat melelahkan. Apakah ia bisa menjalani cinta yang seperti itu? Cinta yang penuh kerahasia – rahasian? Cinta yang membuatnya bahkan takut menjalani kehidupannya. Cinta yang tidak pernah ada disisinya saat ia membutuhkan cinta itu? Apakah ia sanggup menjalani cinta seperti itu?
Jiyeon menepis tangan Kikwang yang memegang tanganya. “Aku tidak bisa , maafkan aku.”
“Kenapa kau tidak bisa Jiyeon?”Tanya Kikwang sedih
Jiyeon berusaha menghindari tatapan Kikwang , ia bisa merasakan keperihan dimatanya. Kalau Jiyeon melihat mata Kikwang seperti itu , mungkin hatinya akan luluh. Ia tidak bsa membiarkan itu terjadi , abgaimanapun ia harus kuat.
“Aku sudah lelah Kikwang , hubungan yang seperti masa lalu itu , bukan hubungan yang aku inginkan. Kau tahu aku hanya ingin hubungan yang biasa saja. Seperti orang pada umumnya.”Jelas Jiyeon
“Apakah karena alasan itu kau menolakku?” Tanya Kikwang
Jiyeon menangguk.
“Tapi apakah kau masih mencintaiku?”
“Aku tidak tahu , aku binggung. Cinta yang seperti itu terasa menyakitkan dan melelahkan. Apakah aku mencintaimu sampai sekarang? Aku tidak mengerti. Karena aku memiliki banyak alasan untuk tidak mencintaimu , Kikwang.”
Kikwang diam membeku. Dia tampak shock dnegan apa yang dikatakan Jiyeon. Jiyeon sendiri tidak tahu harus berbuat apa – apa. Kikwang kembali ke tempat duduknya. Ia diam.
“Aku sudah menyuruh supir untuk mengantarmu ke hotel.” Kata Kikwang pada akhirnya.
“Kau tidak akan pulang bersamaku?”Tanya Jiyeon kaget
“Tidak , aku harus pulang ke Korea seceaptnya karena ada syuting. Kau pulanglah lebih dulu.”
Jiyeon menangguk , dengan terpaksa Jiyeon meninggalkan Kikwang. Ia tidak ingin melakukan hal seperti ini , menyakitkan Kikwang. Tapi ia juga tidak yakin ia punya kemampuan untuk menjalani hubungan seperti ini lagi
“Tunggu Jiyeon!”Panggil Kikwang
“Iya?” Jawab Jiyeon
“Apa mungkin , jika aku bukan artis , kau akan menerima cintaku?”
Jiyeon terdiam sebentar , ia menimbang – nimbanga akan menjawab apa. Ia sendiri tidak yakin apakah alasanya menolak Kikwang karena hanya dia lelah? Apa karena itu? Apa bukan karena ia takut , takut kalau Kikwang berpalin dari dia , karena banyak gosip yang beredar kalau Kikwang jatuh cinta pada lawan mainnya?
“Bagaimana Jiyeon? Apa Jawabanmu?”Tanya Kikwang sekal lagi
“Mungkin semuanya akan menjadi lebih mudah ketika kamu bukan artis.” Jawab Jiyeon pada akhirnya.
Kikwang POV
Kikwang terduduk lemas di restauran yang baru ia pesan sendirian. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi , ia barus saja di tolak oleh Jiyeon. Tak lama handphone Kikwang berbunyi , ia mendapatkan telepon dari Doojoon.
“Hallo.” Jawab Kikwang lemah.
“Bagaimana? Apa semuanya berjalan dengan lancar ?” Tanya Doojoon semangat
“Semuanya berjalan dengna lancar , hanya saja ia menolakku hyung.”
“Apa kau baik – baik saja?”
“Iya aku baik – baik saja hyung. Aku hanya terllau terkejut  mungkin? Tapi aku baik baik saja , malam ini aku akan kembali hyung.”
“Eum baiklah kalau begitu , hati – hati. Jangna melakukan hal bodoh , kau mengerti.”
“Arasho.”
Kikwang menutup teleponya. Ia pun lantas meninggalkan restauran itu. Wajahnya lusuh sekali. Ia berjalan seperti mayat hidup. Benar – benar tidak ada tenaga. Sesampainya di bandara , Kikwang malah mendapatkan telepon lagi , dengan malas – malas Kikwang mengangkatkan telepon itu.
“Kikwang shi apa kau baik – baik saja?”Tanya suara wanita dari ujung telepon
Kikwang yang lupa melihat siapa yang meneleponnya , langsung buru – buru melihat. Jiyeon!
“Ah , aku baik – baik saja.” Jawab Kikwang dengan seceria mungkin
“Kau sudah ada di bandara?”
“Ah…aku sudah ada di bandara.”
“Oh baguslah kalau begitu , sebenarnya aku meneleponmu , aku ada sesuatu hal yang ingin kuberitahukan.”
“Tentang apa?”
“Tadi aku menitipkan dompet di dalam tasmu , dan aku masih belum mengambilnya kembali.”
Kikwang buru – buru melihat tasnya sambil tidak menutup teleponya. Memang benar ternyata dompet Jiyeon masih ada di dia. Kikwang pun lupa untuk memberikan dompet itu , ia malah menyuruh Jiyeon untuk pulang.
“Sekarang harus bagaimana?”Tanya Kikwang kebinggungan.
“Begini saja , bagaimana kalau kau titipkan saja pada Junhyung , nanti saat aku pulang ke korea aku akan mengambilnya padanya.”
“Kenapa kau tidak mengambil sendiri padaku? Dan apa kamu tidak membutuhkan dompet ini?”
“Aku tidak mau merepotkanmu , sebenarnya kau membutuhkannya. Karena semua uang yenku ada disituh , tapi kau akan repot kalau harus mengembaliknya padaku. Dna lagi aku tidak akan mungkin keburu kalau kesanah. Jadi sudahlah. Aku bisa meminjam uang dulu pada Kojiro kalau masalah Yen.”
“Apa kau lebih memilih merepotkan orang lain dari pada merepotkanku?”
“Bukan begitu , aku harap kau tidak salah paham.”
“Baiklah aku mengerti , aku akan mengatakan sesuai kemuanmu saja.”
Kikwang menutup teleponya langsung begitu saja. Ia sudah malam bertengkar karena itu , sebenarnya bukan dibilang bertengkar tapi berdebat.
Jiyeon POV
Teleponnya baru saja dimatikan oleh Kikwang , ia pasti marah. Sebenarnya apa yagn harus dilakukan ia sekarang? Apa yagn dilakukanya sekarang serba salah. Tidak ada yang benar bagi Kikwang. Ini membuat Jiyeon pusing setengah mati.
Liburan 2 minggu Jiyeon di Jepang , berjalan dengan cukup menyenangkan , Kojiro bisa membuat Jiyeon lupa dengan masalahnya , dengan membawa Jiyeon mengelilingi Tokyo ke teman – tempat yang aneh menurut Jiyeon , tapi menyenagkan.
Hari ini adalah hari terakhir Jiyeon berada di Jepang. Ia sudah merapikan koper dan oleh – oleh yang akan dibawanya untuk teman – teman dan juga keluarganya di Indonesia.
“Lain kali kau main lagi ke Jepang yah.” Pesan Kojiro saat Jiyeon mau meninggalkan bandara
“Ok pasti , nanti uangnya akan ku transfer padamu yah.” Kata Jiyeon
“Ok , santai saja.”
Jiyeonpun berpisah dengan Kojiro. Jepang , negara yang menyangkan. Jiyeon berjanji pada dirinya sendiri kalau ia memiliki waktu libur lagi ia akan berkunjung ke Jepang , dan akan menjelajah kota lain selain Tokyo.
Kikwang POV
“Apa kau benar – benar mau  keluar dari B2ST?”Tanya Dongwoon kaget ketika ia mendnegar kabar dari menejer kalau Kikwang mengatakan pada perusahan untuk keluar.
“Iya , aku mau keluar.” Jawab Kikwang apa adanya
“Tapi kenapa kau mau keluar?”
“Apa karena kau ditolak oleh Jiyeon jadi kau mau keluar?”Tanya Junhyung
“Selama aku menjadi artis aku tidak bisa memberikan cinta yang membahagiakan bagi Jiyeon. Kalau aku mundur jadi artis aku yakin aku bisa melakukanya.” Jelas Kikwang
“Kau mengorbankan segalanya untuk Jiyeon , apakah kau sangat amat mencintainy?”
“Tentu saja aku sangat mencintainya , aku mencintainya lebih dair aku mencintai diriku sendiri.”
“Doojoon bagaimana ini?”Tanya Hyunseung sambil melihat Doojoon dengna pandangan memohon agar menghentikan kemauan Kikwang
“Aku tidak bisa berkata apapun. Ini sudah pilihan Kikwang , aku hanya bisa berdoa yang terbaik padamu.” Kata Doojoon.
“Hyung!”Protes Dongwoon
Doojoon meninggalkan mereka semua , Kikwang pergi mengikuti Doojoon. Ia ingin menghentikan Doojoon .
“Maafkan aku.” Kata Kikwang sambil menahan Doojoon , dengan menarik tanganya.
“Sudah tidak apa – apa , yang penting kamu bahagia. Kau bahagia kan?”Tanya Doojoon
Doojoon langsung memeluk Kikwang. Kikwang bersyukur memiliki leader dan juga keluarga seperti Doojoon. Yah mungkin pelukan dan dukungan dari para orang terdekatlah yang dibutuhkan Kikwang sekarang.
Ia sadar benar kalau cintanya ini mengorbankan banyak hal , karir , impiannya , perasaan teman – temannnya. Kikwang merasa bersalah terutuam pada para member dan juga keluarganya. Tapi ia memilih untuk melakukan itu , itu adalah resiko yang dia terima ketika ia harus memperjuangkan cintanya.
Jiyeon POV
“Hey kau sudah dengar kabar belom kalau Kikwang mengudnarkan diri dari B2ST?” Tanya Cho PD yang tiba – tiba datang ke kantor Jiyeon , saat Jiyeon sedang mengerjakan skripnya untuk Sukira
Jiyeon langsung berhenti mengetik , ia melihat Cho PD “Apa kau yakin?”
“Tentu saja aku yakin! Temanku yang bekerja di Cube Ent mengatakan itu. Dan walaupun tidak diresuti sepertinya Kikwang tetap bersih kerasa ingin keluar.”
Jiyeon terdiam , Kikwang tidak benar – benar melakukan itu bukan? Kikwang tidak menanggap kata – katanya serius pada waktu itu bukan? Pikiran Jiyeon sudha tidak menentu.
“Jiyeon kau baik – baik saja , wajahmu pucat.” Tanya Kikwang kawatir.
“Tidak aku baik – baik saja. Cho PD aku harus pergi sebentar , aku janji sebelum siaran nanti aku sudah akan disinih.” Kata Jiyeon buru – buru keluar.
Jiyeon buru – buru menuruni anak tangga , karena lift dinilai terlalu lama , akhirnya ia memutuskan untuk turun melalui tanggal dari lantai 9. Jiyeon haru menemui Kikwang , Kikwang tidak boleh keluar dari B2ST!
Selama menuruni anak tangga Jiyeon sibuk menghubungi handphone Kikwang , tapi tidak diangkat. Iapun akhirnya memtuuskan untuk menelepon Junhyung.
“Ada apa Jiyeon?”Tanya Junhyung
“Ah oppa , oppa apa oppa tau dimana Kikwang? Aku harus berbicara denganya.” Jawab Jiyeon cepat.
“Aku tidak tahu dia ada dimana , seharusnya dia ada dorm , tapi saat aku pulang tidak ada siapapun disinih.”
“Oh begitu… , baiklah terimakasih oppa.”
Jiyeon menutup teleponnya , ia kembali mencobai menelepon Kikwang , tersambung tapi mengapa tidak diangkat , berkali – kali Jiyeon mencoba. Sampai Jiyeon sampai di lobypun belom ada jawaban dari Kikwang.
“Jiyeon !” Panggil salah seorang pegawai recepsionis kantornya
Dengan terburu – buru Jiyeon menghampiri pegawai itu. “Ada apa?”
“Ini tadi ada lelaki yang menitipkan ini padaku , katanya suruh diberikan padamu.”
Pegawai tersebut memberikan kotak kecil pada Jiyeon. Sambil masih sibuk menghubungi Kikwang Jiyeon membuka kotak itu. Isinya sebuah cincin!  Ia ngat benar ini adalah cincin yang mau diberikan Kikwang padanya wktu saat di Jepang!
“Apa dia baru saja pergi? Kemana lelaki itu pergi?”Tanya Jiyeon buru – buru
“Iya dia baru saja pergi. Kearah sanah.” Jawab pegawai itu smabil menunjuk jalan yang menuju arah Hongdae.
“Terima kasih yah.”
Dengan buru – buru Jiyeon keluar kantor , Kikwang pasti belum jauh.Kalau Jiyeon berlari pasti ia akan bsia keburu mengejar Kikwang.

Comments
  1. hoshi says:

    Ayo buat next chapternya!!
    penasaaran bangeet nih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s