Be Mine [Chapter 3]

Posted: February 5, 2012 in Be Mine
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,

 

“Noona aku pergi dulu yah.”Kata Myungsoo berpamitan saat aku baru bangun

Aku melihat jam yang di ponsel pribadiku , jam 8 pagi. “Kau mau pergi sekarang?”Tanyaku masih setengah ngantuk

“Ia aku harus pergi ke Jepang. Sesampainya di Jepang aku akan menghubungi noona.”

“Eum Myungsoo…”

Myungsoo menghampiriku , ia duduk di ranjangku dan aku masih tiduran. Aku mencoba untuk bangun dengan susah payah karena aku benar – benar masih ngantuk. Semalam aku tidak bisa tidur karena memikirkan Junho

“Maafkan aku tidak bisa memasakan sarapan untukmu.”Kataku masih dalam keadaan setengah sadar

“Tidak apa – apa noona , aku tahu noona sangat lelah. Sudah noona sekarang tidur lagi saja.”Kata Myungsoo

“Kamu hati – hati di Jepang. Jangan lupa makan yah.”

“Baik noona aku pergi dulu.”

Sebelum pergi Myungsoo mencium pipiku. Akupun mencium pipinya balik. Seperginya Myungsoo aku kembali tidur.

Siang hari di cafe di dekat rumahku

Aku janji dengan Junho jam 12 tapi karena aku telat bangun maka aku sampai di cafe jam 12.30. Junho sudah menungguku di dalam cafe. Aku menghampiri Junho

“Maaf aku terlambat.”Kataku menyesal

“Santai saja aku juga baru datang.”

“Kau jangan bohong , kopimu saja sudah dingin bagaimana kamu bisa bilang baru datang. Bagaimanapun aku datang telat , maafkan aku.”

Junho tersenyum. Jujur saja aku bukan tipe orang yang tidak ingin mengaku salah atau kalau aku salah terus ada orang lain yang menutupi kesalahku. Aku ini tipe orang yang ketika kau salah aku akan mengaku salah. Tapi ketika aku benar aku akan berkata kalau aku benar

“Apa kau sudah makan? Mau kupesani makanan?”Tanya Junho

“Tidak perlu , kau minum saja.”Jawabku.

“Hari ini kau ada rencana kemana saja?”

“Tidak ada , hari ini aku tidak ada jadwal pemotretan. Oh iya ngomong – ngomong kamu harus kembali ke kantor jam berapa?”

“Hari ini aku tidak berniat kembali ke kantor , aku ingin menghabiskan waktu dengamu.”

Deg! Jantungku berdetak tidak karuan. Ini pertama kalinya aku mendengar cowok seterang – terangan ini. Yah mungkin karena akut idak pernah menjalani hubungan dengna pria manapun sebelum ini makanya kau merasa perasaan tidak karuan seperti ini.

“Jaejoong ada apa kau meneleponku?”Tanya mengangkat ponselku yang baru saja berbunyi

“Kau ada dimana?”Tanya Jaejoong

“Aku sedang lunch di cafe tak jauh dari rumahku , memang kenapa?”

“Aku menyusul kesanah yah.”

“Eum tapi…”

“Kenapa? Apa kau sedang ada urusan sekarang?”

“Begitulah. Maaf yah , nanti saja setelah selesai aku akan meneleponmu. Kita akan bertemu dan aku akan mengajakmu jalan – jalan bagaimana?”

“Baiklah kalau begitu.”

“Siapa yang meneleponmu? Pria yang semalam masuk kerumahmu itu?”Tanya Junho penasaran

“Bukan , dia dulu asistenku di Paris , ia sekarang pulang ke Korea untuk jalan – jalan , baru saja pulang”

“Kau akan pergi denganya?”

“Yaps , malam ini.”

Kami berdua sama sama diam. Aku sibuk meminum kopiku sambil menunggu nunggu barangkali ada yang ingin dikatakan Junho. Tapi Junho tanpa sibuk dengan kue yang dia pesan. Mau tak mau aku yang harus membuka pembicaraan duluan kalau seperti ini

“Soal kemarin….”Pancingku

“Kau akan menolakku bukan?”Tanya Junho datar.

“Maafkan aku , tapi aku benar – benar tidak bisa. Aku tidak mau menyakitimu dengan menerimamu , aku akan merasa berdosa kalau seperti itu. Maafkan aku sekali lagi.”

“Kau tahu , aku sudha menyukaimu sejak lama. Sejak kita sama – sama sekolah dulu. Kau adalah gadis pertama yang menyapaku dan memperlakukanku sama seperti yang lainya. Kau berbeda , dan dari istuhlah aku jatuh hati padamu , maka dair itu aku menyatakan cinta padamu , dan kau menolakku. Pada saat itu aku mengerti alasan kenapa kau menolakku. Tapi sekarang? Aku benar- benar tidak mengerti kenapa kau menolakku? Apakah karena kamu sudah memiliki pacar?”

“Maafkan aku tapi aku benar – benar menggapmu hanya sebagai teman. Tidak lebih dari itu. Alasanku menolamu bukan karena aku punya pacar atau tidak. Tapi aku tidak di izinkan berpacaran oleh adikku. Aku tidak menjelaskan alasanku ini dulu , karena aku merasa memalukan tapi ini benar. Aku tidak diperbolekan pacaran oleh adikku.”

“Apakah ia mengidap semacam sister complex?”

Aku mengangguk. “Tapi aku rasa buka dia saja yang mengidap sister complex , karena akupun demikian. Aku tidak akan memperbolehkannya pacaran.”

“Jadi karena alasan keluarga kau menolakku?”

“Maafkan aku , kau mungkin menganggap ini tidak masuk akal. Tapi inilah yang terjaid. Aku tidak mencoba membuat – buat alasan untuk menolakmu. Aku benar – benar jujur kali ini.”

“Baiklah aku mengerti kalau begini , tapi kita masih bisa berteman kan?”

“Tentu saja kita masih bisa berteman.”

Kami menghabiskan waktu dengan mengobrol. Kami bercerita tentang kehidupan kami setelah lulus sma. Ternyata Junho melanjutkan sekolah di amerika dan pulang dengan mengambil gelar s3 di jurusan bisnis.

Jujur saja aku tidak heran kalau Junho bisa seperti itu , karena dari dulu Junho memang sudah pintar. Bahkan mungkin aku bisa lulus karena bantuan dari Junho , karena dulu sewaktu sma aku payah dalam belajar. Kalau tidak ada Junho yang membantuku belajar aku mungin tidak akan lulus.

“Maaf aku harus pulang sekarang.”Kataku ketika melihat jam yang sudah menunjukan pukul 4 sore

“Kau akan pulang sekarang?”Tanya Junho agak sedih.

Aku mengangguk. Akupun berpamitan pulang pada Junho, Sesampainya di rumah aku mendapati Jaejoong sudah menunggu di depan rumahku. Aku terheran – heran bukan main , karena aku berjanji apdanya akan menemuinya setelah aku meneleponnya , tapi ia sudah ada di rumah bahkan sebelum aku meneleponnya.

“Kau sudah lama disinih?”Tanyaku sambil mempersilahkan Jaejoong masuk.

“Tidak begitu lama. Awalanya aku mau meneleponmu lebih dahulu tapi karena takut menganggumu aku jadi tidak meneleponmu.Adikkmu sudah pergi?”

“Ia begitulah , ia pergi ke Jepang hari ini , dan baru pulang minggu depan.”

“Jadi kau tinggal disinih sendirian? Bagaimana kalau aku menemanimu tinggal disinih?”

Aku mengangguk setuju. Selama Myungsso meninggalkan Korea , aku menghabiskan waktu dengan Jaejoong. Iapun ikut denganku ke pemotretan. Intinay Selama 1 minggu ini Jaejoong terus bersamaku.

Menurut Jaejoong ia akan tinggal di korea kurang lebih 1 bulan. Dan dia sudah merengek – rengek padaku untuk membawanya bermain keluar dari kota seoul. Aku berjanji akan membawanya bermain setelah aku menyelesaikan konsep untuk pemotretan album jaket sm town.

“Hari ini adikmu pulang?”Tanya Jaejoong sambil melahap roti bakar

“Kemarin malam ia menghubungiku ia akan tiba di korea pada malam hari dan akan langsung pulang ke mari.”Jawabku.

“Kalau begitu , aku akan kembali tinggal di hotel.”

“Loh kok gitu? Kau tinggal di sinih saja. Lagi pula maish ada kamar kosong kok.”

“Aku tidak enak dengan Myungsoo. Apalagi mendengar ceritamu ia mengidap sister complex. Aku merasa kalau aku tinggal disinih dengnaya ia merasa tidak akan nyaman.”

“Apakah kau yakin akan kembali ke hotel?”

Jaejoong mengangguk yakin. Aku tidak enak sebenarnya pada Jaejoong , saat aku membutuhkannya aku mengizinkannya tinggal di rumah tapi saat sudah ada Myungsoo kesanya aku mengusirnya. Rasanya seperti habis manis sempah dibuang kalau begini.

“Hari ini kau kemana?”Tanya Jaejoong

“Hari ini aku ada meeting untuk membahas konsep untuk pemotretan yang terbaru.” Jawabku

“Untuk majalah?”

“Bukan , untuk album jaket. Kau mau ikut?”

“Bolehlah.”

Hari ini aku pertama kali lagi bertemu dengan Junho setelah pertemuan terakhir kami di cafe. Jujur saja aku merasa tidak enak hati harus bertemu dengannya. Aku binggung apa yang harus kulakukan saat bertemu denganya.

Aku tahu aku harus profesional memisahkan antara urusan pekerjaan dan perasaan. Tapi apakah aku bisa? Karena ini pertama kalinya aku berurusan dengan hal yang seperti ini. Benar – benar memusingkan.

“Kau tampak tidak seperti biasanya.”Komentar Jaejoong ketika kami sedang menunggu di ruang meeting di kantor sm

Aku gugup bukan main , pertama karena aku harus bertemu dengan perwakilan artis dari sm. Menurut petugas resepsionis ada perwakilan dari artis yang akan ikut meeting kali ini. Jelas saja aku gugup kalau itu adalah member super junior / dbsk aku tentu tidak bisa berkonsetrasi karena aku merupakaan fans mereka.

Kedua karena ada Junho. Aku benar – benar binggung bagaimana aku harus menghadapinya saat ini. Karena aku sudah menolak pernyataan cintanya kemarin. Dan sejak itu kami tidak saling kontak satu sama lain. Mungkin karena Junho marah dan kecewa padaku.

Tak lama orang – orang yang merupakan staf dari sm masuk , tidak ada yang kukenal seorangpun. Deg! Yunho! Wajahku kontan memerah. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan Yunho.

“Narsha kau baik – baik saja? Wajahmu merah sekali , kau sakit?” Tanya Jaejoong cemas.

Aku menggeleng. “Cubit aku , supaya aku tahu ini bukan mimpi.”

Jaejoong mencubitku , dan sakit! Ini bukan mimpi! Aku bisa bertemu dengan U-know Yunho!?! Dia benar – benar lebih ganteng dari pada yang biasa aku lihat di tv. Badanya tinggi dan tegap benar – benar sempurna

“Kau sudah lama disinih?”Tanya Junho

Lamunanku tentang Yunho buyar sudah. Aku mencoba berkonsentrasi , ini bukan saatnya untuk aku mengagumi Yunho tegurku pada diri sendiri

“Aku baru saja disinih , ini perkenalkan Jaejoong temanku. Ia dulunya asisten fotograferku sewaktu aku di Paris. Jaejoong ini Junho , dia merupakan direktur bagian promisi disinih.”Kataku memperkenalkan mereka berdua

Setelah perkenalan antara Jaejoong dan Junho , meetingpun dimulai. Meeting tidak berlangsung dengan formal. Ini lebih seperti mengobrol tentang sesutu hal , dengan share satu sama lain tentang gambaran konsep.

Karena belum ada sama sekali konsep seperti apa yang ingin diusung. Karena masih pertama kali , maka pembicaraan masih berhubungan dengan latar belakang dan tujuan image tersebut.

Yunho cukup aktiv berbicara , walaupun setiap kali ia bertanya secara langsung padaku aku tetap gugup menjawabnya , bahkan melihat wajahnyapun saat menjawab pertanyaanya aku tidak bisa.

“Sampai bertemu minggu depan , aku senang bisa bekerja sama dengan fotografer sekreatifmu.”Puji Yunho.

Wajahku kontan memereah dengan gugup aku menjawab “Te-ri-ma ka-sih atas pu-jian-nya.”

“Ya! Apakah kau baik – baik saja?”Bisik Jaejoong.

Aku mengangguk wajahku masih merah. Melihat reaksiku seperti itu Jaejoong hanya mengegeleng – geleng tidak mengerti.

“Yunho-shi , apakah aku boleh meminta tanda tanganmu?”Tanyaku malu – malu

“Tentu saja , dimana aku harus tanda tangan?”

Aku memberikan buku agendaku. Tanpa basa basi Yunho menandtangi buku agendaku. Aku terpana dengan tanda tangannya. Ini benar – benar seperti mimpi!

“Narsha tunggu!”Panggil Junho

Akupun berhenti ,Junho menghampiriku “Kau mau langsung pulang?” Tanya Junho.

Aku melihat pada Jaejoong , aku binggung harus menjawab apa sekarnag “Ia , memang kenapa?”

“Apakah kamu mau dinner bersamaku? Kau juga boleh mengajak temanmu itu kalau kau mau.”

“Eum bagaimana yah…”

“Ya! Kau sudah punya janji dengan Myungsoo hari ini , apakah kamu sudah lupa?”Bisik Jaejoong mengingatkanku

Aku hampir lupa malam ini aku punya janji dengan Myungsoo , aku tidak mungkin membatalkan janji dengan Myungsoo karena Myungsoo baru saja pulang dari Jepang.

“Maaf Junho tapi lain kali saja bisa?”Tanyaku tidak enak

“Kau sibuk yah? Yah sudah lain kali saja.”Kata Junho agak sedih

“Lain kali aku akan menraktirmu makan. Aku janji.”

“Baiklah.”

“Dari yang kulihat pria itu menyukaimu.”Komentar Jaejoong saat mengantarku pulang kerumah.

“Dia hanya teman dari sma , tidak ada alasan ia menyukaiku. Dia berbuat begitu karena dia menganggapku temannya , itu saja.”Jelasku bohong

“Narsha , kau tahu kau tidak akan bisa berbohong padaku. Aku yakin pria itu menyukaimu dan kau menolaknya. Bukan begitu?”

Aku mengagguk lesu “Aku tidak peduli kalau mungkin aku menjadi perawan tua nanti , tapi aku benar – benar tidak mau dipisahkan dengan Myungsoo.”

“Kau benar – benar mencintai adikmu itu yah? Sesuai dugaanku.”

“Apakah tidak boleh?”

Jaejoong tidak menjawab ia hanya menghela nafas. Akupun tidak protes dia merespon seperti itu. Karena aku benar – benar sudha tidka bisa tertolong lagi. Aku memang tidak bisa lepas dari Myungsoo.

Jam sudah menunjukan pukul 11 malam , aku masih diam di sofa , tv menyala tapi aku tidak menontonnya. Pikiranku dipenuhi dengan Myungsoo , ia bilang hari ini akan pulang , tapi tak biasanya ia pulang semalam ini. Kalau pulang telat ia pasti mengabariku

Ditambah lagi handphonenya tidak bisa dihubungi. Aku benar – benar cemas. Apakah aku harus menelepon menejernya?

Ting Tong

Buru – buru aku membukakan pintu tanpa melihat dulu

“Sunggyu , ada apa dengan Myungsoo?”Tanyaku ketika melihat Myungsoo dipapah oleh Sunggyu.

“Kami tadi minum , tapi tidak sengaja Myungsoo meminum soju jadi seperti ini.”Jelas Sunggyu

“Bisa tolong aku bantu masukan Myungsoo ke dalam kamarnya?”

“Tentu saja.”

Aku membantu Sunggyu memapah Myungsoo. Aku tidak akan bisa kalau harus memapah Myungsoo seorang diri , dia lebih berat dan besar dari pada aku. Aku meletakan Myugnsoo di tempat tidurnya. Dari jarak beberapa meter saja aku sudah bisa mencium bau arak dari tubuhnya.

“Kenapa ia bisa minum sebanyak ini?”Tanyaku penasaran

“Tidak tahu. Tadi siang ketika sudah di korea ia sudah bersemangat pulang kerumah. Tapi tak lama ia meneleponku menanyakan aku ada dimana , aku mengatakan aku bersama member lain sedang makan – makan. Ia bilang mau menyusul dan saat sudah sampai ia langsung minum , ia bahkan tidak makan sama sekali. Saat aku bertanya kenapa ia minum ia tidak menjawab , tapi aku yain moodnya sedang tidak baik. Apa kalian bertengkar?”

“Tidak kita tidak bertengkar sama sekali.”

“Lalu kenapa ia seperti ini?”

“Aku tidak tahu. Narsha maaf tapi aku harus pulang ke dorm sekarang. Ini sudah terlalu larut , dan besok aku ada jadwal syuting di pagi hari. Maafkan aku.”

“Tidak apa – apa. Oh yah Sunggyu apakah Myungsoo punya jadwal untuk besok?”

“Sepertinya tidak ada. Tapi aku tidak ingat , nanti aku akan tanya pada menejer dan aku akan mengabarimu.”

“Baiklah terima kasih yah. Maaf aku tidak bisa mengantarmu keluar. Hati – hati dijalan yah.”

Sunggyupun meninggalkan kami. Aku berusaha mengantikan baju Myungsoo. Tapi itu bukan hal yang mudah. Myungsoo terlalu berat. Dan ia tampak masih tidak sadarkan diri.

“Noonaaaa…”Panggil Myungsoo manja.

“Kau bangun?”Tanyaku sambil membantu Myungsoo untuk bangun

“Aku merasa mual.”

Aku membantu Myungsoo untuk ke wc. Aku yakin sekali Myungsoo sama sekali tidak sadar. Di Wc Myungsoo muntah terus. Aku hanya bisa mengelus ngelus punggung Myungsoo , supaya membuatnya lebih baik.

“Kau kenapa minum? Kau kan tidak kuat minum.”Komentarku

Myungso membersihkan mulutnya dengan tangannya dan sontak melihatku. Tatapannya begitu galak. Aku tidak tahu kenapa ia begini

“Noona apa noona menyembunyikan sesuatu dariku?”

Deg! Aku tahu Myungsoo sudah mengetahuinya.Ia pasti kecewa tahu aku menyembunyikan ini padanya. Sampai ia mabuk seperti ini , pasti ia merasa sangat sedih.

“Maafkan aku Myungsoo , tapi aku takut untuk mengatakan yang sebenarnya.”Kataku pelan.

“Noona aku benar – benar kecewa padamu.”

Lemas itu yang kurasakan. Pikiranku kosong. Hatiku benar – benar perih mendengar Myungsoo berkata demikian. Aku telah mengecewakannya! Aku yang selalu ingin terbaik untuk Myungsoo , telah mengecewakannya….

Semalam aku tidak tidur. Aku hanya duduk di sofa diruang tengah. Sampai pagi haripun aku tidak beranjak dari tempatku duduk.

“Noona aku pulang dulu.”Pamit Myungsoo

“Kenapa buru – buru sekali? Aku buatkan sarapan untukmu yah?”Tanyaku

“Tidak pelru.”

Brak. Aku terjatuh. Karena semalam aku hanya duduk tanpa meruabh posisi duduku , sekarnag kakiku lemas. Myungsoo yang melihatku terjatuh mengendokku ke kamar. Ia melihat lukaku dengan teliti

“Aku akan ambilkan balsam untukmu yah.”kata Myungsoo

Aku menahan tangan Myungsoo sebelum ia sempat pergi. Tangisku pecah. “Maafkan aku.”

“Noona….”Komentar Myungsso kaget

“Aku benar – benar tidak bermaksud menyembunyikannya darimu. Tapi aku takut kamu marah. Tapi aku tidak menerima pernyataan cintanya.”

Myungsoo sontak memelukku. “Aku tidak akan membiarkan pria itu mengambil noona dari sisiku. Noona selamanya adalah milikku , begitupun aku.”

“Maafkan aku.”

Dalam pelukan Myungsoo aku menangis. Tangisku pecah. Aku menangis karena aku merasa berslaah telah mengecewakan Myungsoo dan juga aku takut , aku takut Myungsoo meninggalkanku.

“Noona lelaki yang bernaama Lee Junho itu kemarin menemuiku. Ia meminta memberikan noona padanya. Ia bilang ia sudah menyukai noona sejak sma , dan noona sudah tahu akan hal itu. Apakah itu benar?”Tanya Myungsoo

Aku mengangguk pelan.

“Mengapa noona tidak pernah bercerita padaku?”

“Aku takut , karena pada saat itu kau sedang sibuk training , dan aku takut kalau aku bercerita ini padamu aku akan membebanimu dan lagi pula aku tidak memiliki perasaan padanya. Dulu ia memang pernah menyatakan cinta padaku , dan sekarang juga ia menyatakan citna padaku tapi aku tidak pernah menerimanya.”

“Noona aku harap noona tidak pernah menyembunyikan hal apapun dairku. Aku tidak pernah menyembunyikan hal apapun dari noona. Aku harap noonapun demikan.”

“Aku berjanji aku tidak akan menyembunyikan apapun lagi terhadapmu.”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s